Jumat, 20 Mei 2016

[Begini Caranya] Buat KIPEM / KITAS di Denpasar

Siang Denpasar ..

Well, post sebelumnya menceritakan tentang aku dan suami yang memutuskan untuk stay di Denpasar, Bali. Sebagai warga negara yang baik, kita harus membuat Kipem (Kartu Identitas Penduduk Musiman) atau KITAS (Kartu Izin Tinggal Sementara).  

Cara membuat Kipem di Denpasar, pertama kita harus mendatangi Banjar, setara RW kalau di Jakarta, yang harus kita serahkan adalah fotokopi KTP yang masih berlaku dan foto 2x3 masing-masing selembar. Nanti kita akan ditanya saat ini tinggal dimana, dll.

Dari pengalamanku, membuat kipem memakan waktu sehari, tapi tergantung, jika kepala desa sedang ada di tempat dan siap tanda tangan mungkin bisa lebih cepat, bila tidak mungkin bisa lebih lambat . Biaya pembuatan kipem sebesar seratus ribu rupiah yang berlaku selama 3 Bulan. Setelah 3 bulan kipem harus kembali diperpanjang.

kipem denpasar
bagian depan Kipem Denpasar.
bagian belakang kipem
Bagian belakang KIPEM
Pada bagian depan KIPEM tertera, Nomor kipem, nama lengkap, foto, alamat tinggal, dll. seperti gambar yang diatas, sedangkan pada bagian belakang tertera jenis kelamin, pendidikan terakhir dan alamat sesuai KTP, masa berlaku KIPEM dan tanda tangan serta cap dari kepala Dusun dan kepala desa setempat.

Aku gak pernah ditanya pendidikan terakhir kayanya, tapi kok ditulis SMA aja ya .. hehe .. yang penting jadi ajalah dulu kipemnya .

KIPEM ini sangat berguna kalau ada pemeriksaan warga di Denpasar sini, Menurut informasi biasanya ada pemeriksaan surat atau razia yustisi oleh pecalang, atau polisi tradisional Bali. Warga pendatang yang tidak mempunyai Kipem akan dikenakan sanksi. Selain itu, KIPEM ini juga berguna untuk membuat SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) atau yang biasa disebut juga Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB), Jadi kita tidak perlu pulang kampung untuk mengurus SKCK, cukup menggunakan KIPEM. Cara membuat SKCK di Denpasar insya Allah akan dibahas di post selanjutnya.


Sekian.
Semoga bermanfaat :D

Rabu, 18 Mei 2016

Welcome to Denpasar !

Awal bulan Mei ini, aku dan suami memutuskan untuk hijrah dari Jakarta ke Denpasar. Yap .. Denpasar, Bali, Indonesia. Actually, suamiku telah lebih dulu berangkat ke Denpasar dengan mengendarai motor kami si Jupi, New Jupiter MX berwarna hitam keluaran tahun 2012 yang menjadi saksi perjalanan kami, ciieee ...  

Tepatnya 10 Mei 2016 malam, aku tiba di Denpasar, Alhamdulillah sampai karena pesawat yang aku tumpangi sempat turbulensi . Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, aku dijemput oleh suamiku dan si Jupi tentu saja. Kami menuju kost kami diiringi dengan hujan rintik.

Hidup di perantauan seperti hal yang sedikit menakutkan tapi kami anggap ini sebagai Chopportunity (Challenging  opportunity), mengutip dari kata-kata Happy, jenius ahli mekanik dari serial TV favorit kami, Scorpion. Denpasar dan Jakarta itu berbeda. Di Jakarta biasanya kami dapat mendengar suara azan bersahutan, disini tidak . Mungkin ada beberapa daerah yang azannya terdengar, tapi di kost kami azan tidak terdengar . Itu yang membuat kami menginstal aplikasi pengingat waktu solat di ponsel kami.

Suamiku bekerja di perusahaan telekomunikasi tidak jauh dari kost, sedangkan aku masih mencari kerja. Di Denpasar ini tidak ada angkot seperti di kota-kota lain jadi rada sulit untuk bepergian sendiri. Rata-rata penduduk menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan. Aku pernah dengar ada angkot gratis, tapi belum tau tepatnya dimana, rutenya kemana dan kapan waktunya ada. Nanti akalu aku sudah mencoba angkot gratis ini, akan aku ceritakan lagi di blog ya .. :)

Hari Minggu kemarin aku dan suami pergi ke Pantai Kuta, salah satu pantai yang terkenal di Bali. Kami pergi kesana malam hari karena kalau siang panas (whooa).. Pantainya gelap, air laut hampir samar, tertolong oleh cahaya bintang yang menyala sempurna dari langit diatasnya. Kami berjalan sepanjang pantai dan pulang .. Well, sebelum ke pantai kami melewati Jalan Legian dan Ground Zero, yaitu monumen yang dibuat untuk memperingati tragedi bom Bali. Di Jalan Legian padat sekali malam itu sehingga kami hanya lewat saja .

Monumen Ground Zero
Ground Zero, Legian

Sepanjang aku di Denpasar, ternyata tidak sedikit muslimah yang menggunakan hijab di kota yang minoritas Muslim ini. Agak lega sebagai hijaber karena punya banyak 'teman'. 

Nah,, sebagai warga negara yang baik, untuk tinggal di Denpasar ini kita harus membuat KIPEM (Kartu Identitas Pendudukan Musiman). Kipem ini nantinya berguna untuk membuat SKCK untuk kelengkapan melamar pekerjaan. Cara untuk membuat kipem insya Allah akan saya tulis di post selanjutnya setelah proses pembuatan Kipem saya disini selesai.

Terima kasih telah membaca. semoga bermanfaat :)